Selasa, 24 September 2019

Kartu Kredit Ditutup Kok Masih Ditagih? Simak Dulu Prosedur yang BenarIni

Selain cara mendapatkan, orang sering menanyakan cara menutup kartu kredit. Padahal, menutup kartu kredit itu semudah mendapatkannya.



Memang sih, mudah-susahnya itu relatif. Tapi kebanyakan orang yang mendapati kesusahan biasanya lalai dalam hal tertentu.

Bagaimanapun, bank adalah lembaga resmi yang memiliki aturan tersendiri, termasuk dalam soal kartu kredit. Jadi, kalau kita mengikuti aturannya dengan baik, rasanya 99% langkah kita bakal mulus.

Namun, yang sering terjadi adalah banyak orang menganggap remeh prosedur terkait dengan kartu kredit. Begitu aplikasi ditolak, baru deh nyesel.

Kalau mengalami penolakan pas mau apply kartu kredit sih mungkin gak rugi-rugi amat. Meski gagal memanfaatkan kartu multiguna itu.

[Baca: Ngaku Pengguna Kartu Kredit Tapi Gak Bisa Maksimalin Manfaatnya? Baca Ini Dulu Deh]
Yang menjadi persoalan adalah lalai mengikuti prosedur menutup kartu kredit. Dikiranya, kartu kredit bisa langsung ditutup setelah pegawai bank ditelepon soal penutupan itu.

Kartu Kredit Ditutup 1
Ngerasa stress terus bisa seenaknya gunting kartu kredit? Eits, ada aturannya loh sebelum kamu bisa mengguntingnya

Atau malah ada yang mengira kartu kredit akan hangus sendiri saat gak digunakan. Memang, kartu kredit ada masa kedaluwarsanya. Tapi isi tagihannya gak bakal hilang sebelum dilunasi!

Itulah kenapa masih sering terjadi kasus kartu kredit ditutup tapi masih ditagih. Kalau kamu termasuk yang mengalaminya, coba cek. Apa betul kamu sudah menaati prosedur penutupan kartu kredit?

Cara Menutup Kartu Kredit
Hampir setiap bank menerapkan prosedur penutupan kartu kredit yang sama. Tahap-tahapnya:
  1. Memberi tahu bank bahwa kita hendak menutup kartu kredit
  2. Melunasi semua tagihan kartu kredit yang akan ditutup
  3. Mendapat surat pemberitahuan dari bank bahwa kartu kredit telah ditutup
  4. Pengguntingan kartu kredit agar tak bisa lagi digunakan
Di sinilah kadang terjadi kekeliruan, baik disengaja maupun tidak. Orang-orang cenderung menempuh jalan instan.

Mereka bilang mau nutup kartu kredit via telepon. Begitu petugas mengatakan kartu kredit sudah ditutup, sudah. Kartu kredit itu gak diutak-atik lagi, bahkan digunting sendiri.

Tapi tiba-tiba datang tagihan. Lha, kartu kredit sudah ditutup kok masih ditagih?
Selidik punya selidik, ternyata tagihan belum lunas seluruhnya. Mana bisa menutup kartu kredit kalau tagihan masih ada.
Kartu Kredit Ditutup 2
Soal petugas bank bilang bahwa kartu kredit sudah ditutup, mungkin kitanya keliru menginterpretasikannya. Bisa saja maksudnya kartu kredit sudah ditutup, betul. Tapi tagihan kudu dilunasi dulu.

Atau mungkin juga pihak bank yang keliru. Bisa jadi sistemnya bermasalah, sehingga keliru melihat riwayat tagihan kartu kredit. Kalau ini yang terjadi, tenang. Kita bisa memperkarakannya.

[Baca: 8 Gugatan Nasabah Bank yang Dimenangkan: Bukti Kalau Kita Juga Punya Hak Loh!]
Karena itulah kita mesti betul-betul paham cara menutup kartu kredit yang ditentukan oleh bank. Mending repot sedikit mengurusnya langsung di kantor bank ketimbang malah rugi sendiri.

Tips Menutup Kartu Kredit

Untuk mencegah kartu kredit sudah ditutup kok masih ditagih, yang utama, kita harus memastikan seluruh tagihan lunas. Mintalah keterangan sejelas-jelasnya dari pihak bank soal tagihan kartu kredit, apa pun itu.

[Baca: Tagihan Bulanan Kartu Kredit: Angka-Angka Itu Maksudnya Apa Sih?]
Yang juga teramat penting antara lain:
  1. Meminta bukti tertulis penutupan kartu kredit (jadi, jangan via telepon doang)
  2. Menghabiskan rewards dari kartu kredit (rugi dong, sudah terkumpul tapi hangus begitu saja)
  3. Menghentikan pembayaran otomatis tagihan listrik, telepon, dan lain-lain via kartu kredit
  4. Kuatkan niat jika memang mau menutup kartu kredit (biasanya petugas bank akan memberikan tawaran-tawaran menggiurkan saat kita hendak menutup kartu kredit)
Jangan sampai menganggap remeh penutupan kartu kredit, ya. Jika terjadi kesalahan, kita yang rugi sendiri.

Harus berurusan dengan pihak bank penerbit kartu kredit, sudah pasti. Yang juga bikin repot adalah bisa-bisa aplikasi kita untuk kredit lainnya di bank bakal ditolak.

Kartu Kredit Ditutup
Kartu kredit juga bisa jadi jebakan kalau kamu gak cerdas memanfaatkan

Penyebabnya: nama kita masuk blacklist Bank Indonesia karena dianggap bermasalah dalam tagihan kartu kredit. Karena itulah kita mesti memastikan dulu kesalahan bukan pada kita.

Jika yakin benar, kita bisa mengejar bank untuk memberikan solusi. Tapi kalau kita yang salah, ya perbaiki. Penuhi seluruh kewajiban. Yuk, bijak memanfaatkan kartu kredit.

Sabtu, 21 September 2019

Punya Kartu Kredit Bisa Membuat Kondisi Keuangan Sehat Loh, Gak Percaya?

Kartu kredit masih sering dicap sebagai biang kerok utang yang numpuk, padahal yang memutuskan menggunakan adalah manusianya. Jadi siapa yang salah, kartu atau pemilik kartunya?



Hari gini masa sih gak punya kartu kredit. Makin banyak orang butuh kartu kredit. Fungsi alat pembayaran ini memang aduhai, bisa dipakai buat banyak hal.

Mau belanja bulanan, bisa dapat diskon. Mau dinner sama pasangan, rewards bisa masuk kantong. Mau jalan-jalan ke luar negeri juga bisa dapat fasilitas tersendiri pakai kartu kredit. Gimana gak ciamik.

[Baca: Buat Traveller Cek Dulu Daftar Kartu Kredit Buat Para Petualang Nih]
Semua fasilitas itu sebenarnya bisa membuat sehat kondisi finansial loh. Meski begitu, cap kartu durjana masih menempel kuat pada kartu kredit. Penyebabnya sepele: orang-orang jadi hidup sengsara gara-gara keliru alias gak bijak memanfaatkannya.

Pemakaian kartu kredit gimana sih yang keliru itu? Semisal, ada fasilitas bayar tagihan minimum dalam kartu kredit. Nah, orang itu mengira, dengan bayar minimum, kartu kredit tetap bisa digunakan tanpa masalah. Padahal, secara gak sadar kita sedang menimbun utang dengan cara seperti itu.

Tagihan adalah kewajiban. Kalau bayarnya minimum, berarti kewajiban yang ditunaikan baru sebagian. Sementara itu, utangnya tertumpuk sedikit demi sedikit sampai jadi bukit.

kondisi keuangan sehat
Pusing pala Barbie lihat tagihan bejibun (Menghitung Tagihan / Cleo)

Orang-orang semacam itu akan susah memastikan kesehatan finansial.

Kartu kredit sebenarnya bisa jadi salah satu sarana untuk membuat kondisi keuangan sehat. Berikut ini rinciannya:

1. Gampang cari pinjaman

Dengan memiliki kartu kredit, kita sudah memenuhi salah satu syarat memperoleh kredit tanpa agunan (KTA). Bank akan menilik riwayat pembayaran tagihan kartu itu untuk menilai kelayakan kita sebagai penerima KTA.

Tinggal penuhi syarat lainnya deh yang berhubungan dengan administrasi. Istilahnya, begitu punya kartu kredit yang tagihannya rutin kita lunasi, besar kemungkinan permohonan KTA akan disetujui. Namun, ada juga KTA yang gak mensyaratkan kartu kredit.

[Baca: Udah Punya Kartu Kredit Trus Ngajuin KTA Emang Gak Bahaya Tuh]

2. Ngirit asyik

Tanpa kartu kredit, mungkin kita hanya berharap ada diskon biasa dari resto, mal, atau tempat belanja lainnya. Masalahnya, diskon kayak gini jarang-jarang keluarnya.

Sementara diskon khusus bagi pemegang kartu kredit lebih banyak. Bahkan ada beberapa program diskon yang memang dibuat khusus untuk kartu tersebut hingga jangka waktu yang lama.

kondisi keuangan sehat
Mata bselalu erbinar lihat diskon (Promo Kartu Kredit / KatalogHarga)

3. Buka usaha

Kartu kredit juga bisa jadi modal buka usaha loh. Ciyusan bisa gitu? Ya bisa lah, caranya, menggunakan kartu itu untuk membeli alat-alat usaha lewat skema cicilan.

Eits, ingat, bukan dengan menarik tunai di mesin ATM loh ya. Kartu kredit berbeda dengan kartu debit. Kalau tarik tunai, meski di ATM bank yang sama, ada biaya yang gak sedikit untuk penarikan dengan kartu kredit.

4. Gampang bikin bujet

Bujet keuangan adalah hal mendasar untuk memastikan kesehatan finansial. Nah, lewat kartu kredit, kita bisa pantau pengeluaran bulanan. Sebab, semuanya tercatat pada tagihan. Tagihan pada bulan ini bisa jadi patokan buat bikin bujet.

Jangan sampai bujet bulan depan jauh melebihi anggaran sekarang. Dengan begitu, pemasukan dan pengeluaran bisa terus kita bikin seimbang.

Empat hal di atas adalah keuntungan punya kartu kredit buat mereka yang bijak menggunakannya. Pengguna kartu kredit yang gak bertanggung jawab mustahil menikmatinya.

kondisi keuangan sehat
Gesek sana, gesek sini lalu elus-elus dada lihat tagihan (Mesin EDC/ Kontan)

[Baca: Cara Menggunakan Kartu Kredit Supaya Gak Terjerumus ke Jurang Blacklist BI]
Karena itu, buang jauh-jauh deh pikiran kartu kredit itu bikin hidup melarat. Malah, kita butuh kartu kredit demi kesehatan finansial. Asal tahu cara memanfaatkannya.

Rabu, 18 September 2019

5 Strategi Mengatur Keuangan Rumah Tangga yang Dijamin Ngejauhin Kamu Dari Kata Bangkrut

Perasaan gajian baru kemaren sore, kok pas ngintip saldo rekening bikin hati berdegub kencang. Angkanya tetiba mendekati nol. Waduh, kemana itu duit pergi?



Parahnya, ritual hati deg-degan lihat saldo rekening berulang terus saban bulan. Padahal merasa enggak belanja apa-apa. Setelah dirinci, pengeluaran biasa-biasa aja.
[Baca: Trik Atur Gaji Biar Enggak Gali Lubang Tutup Lubang]
Tagihan listrik, bayaran anak sekolah, bayar premi asuransi, kartu kredit, servis mobil. Tuh, enggak ada yang aneh. Terakhir cuma buka situs-situs belanja online.
Ups! Belanja online? Wah bisa jadi ini biang keroknya. Kegiatan iseng-iseng buka situs belanja online sudah dianggap hal yang biasa. Aktivitas itu tak lagi dianggap sebagai sumber pengeluaran.
Bisa jadi inilah pangkalnya. Aktivitas yang dianggap biasa saja dan bukan dianggap sumber pengeluaran jadi masalah gaji cepat menyusut di saldo rekening.
Ya jelas susutnya cepat. Pakai logika sederhana saja. Pemasukan tetap tapi pengeluaran membludak, ya kempis itu saldo.
Enggak mau kan alami kejadian ini terus-terusan. Buruan diatasi. Caranya? Coba deh strategi mengatur keuangan rumah tangga biar jauh dari virus bokek.

strategi mengatur keuangan rumah tangga
Suka bingung giliran belanja? Berarti kamu belum fokus

1. Belanja pakai emosi
Shopping emang menyenangkan. Sensasinya itu lho. Kata orang-orang gila belanja, shopping itu menurunkan kadar stres. Yang lain bilang shopping itu waktu yang tepat memanjakan diri. Eh, ada yang timpali kalau berat badannya turun drastis gara-gara shopping.
Ini namanya belanja pakai embel-embel emosi. Membiarkan mood buat mendiket keputusan belanja sama saja membiarkan diri jatuh bangkrut.
[Baca: Belanja Impulsif Cuma Bikin Keuangan Jadi Amburadul]
Kalau mau aman, pikirkan dengan jernih sebelum putuskan membeli sesuatu. Jangan beli sesuatu yang sekadar memberikan kesenangan sesaat! Banyak kok kegiatan lain yang menawarkan kesenangan di luar belanja.
2. Hindari koleksi voucher
Voucher sebenarnya perangkap lho! Misalnya di tangan punya voucher makan Rp 100 ribu di restoran A. Yakin cuma pesan menu seharga itu? Belum lagi kalau ada syarat dan ketentuan voucher berlaku dengan transaksi senilai sekian rupiah. Nah lho!
Padahal bisa jadi barang atau jasa yang ditawarkan voucher itu sama sekali tak dibutuhkan. Jauhi juga munculnya rasa bersalah gara-gara tak manfaatkan voucher itu. Belum tentu voucher itu menjamin irit pengeluaran. Yang ada malah duit yang dikeluarkan makin membengkak.

strategi mengatur keuangan rumah tangga
Cek dan ricek dulu voucher yang kamu dapat sampai tulisan terkecilnya

3. Isi dompet dengan uang tunai secukupnya
Kartu kredit di dompet kadang dianggap jadi sumber malapetaka. Padahal bawa selalu bawa duit dalam jumlah banyak juga sama buruknya. Begitu bawa banyak, di otak bakal tertanam pikiran ada duit banyak yang perlu dihabiskan.
Lebih baik bawa duit secukupnya. Ini akan membuat nafsu membelanjakan jadi terkekang. Menghindari kartu kredit juga bukan langkah bijak. Ada baiknya menyusun strategi mengenai kapan bertransaksi pakai uang tunai dan mana yang gesek.
4. Bikin perencanaan
Bikin perencanaan itu sahih hukumnya. Termasuk dalam soal pinjam-meminjam uang di bank. Contohnya saja kamu butuh dana segar buat kebutuhan mendadak dan memutuskan meminjam KTA di bank.
Walaupun segalanya sudah bisa online, jangan asal mengajukan pinjaman saja. Bikin dulu perencanaan matang: berapa tenor yang akan diambil, bagaimana pengeluaran sebulan kalau sudah membayar cicilan, berapa bunga yang paling pas buat kantong, dst.
5. Cerdas berinvestasi, bukan didorong emosi
Berinvestasi adalah cara terbaik mengembangkan uang plus memproteksi aset. Soal itu setuju. Tapi tetap digarisbawahi, tak semua jenis instrumen investasi itu cocok buat semua orang.
[Baca: Manfaat Berinvestasi Itu Lebih Oke Bila Dilakukan Sejak Muda]
Selain itu, memilih investasi yang tepat juga terkait dengan perencanaan dan relevansi dengan kebutuhan. Satu hal lagi, berinvestasi itu sifatnya jangka panjang. Engga ada tuh investasi yang hasilnya didapat dengan instan.
Alhasil, berinvestasi demi mengejar keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu singkat sama saja bunuh diri. Gambling namanya dan itu sudah melibatkan emosi.

strategi mengatur keuangan rumah tangga
Selalu punya target! Jangan sampai hidup cuma ngalir kayak air

Jadi fokus dan komit sama lima hal itu. Bila itu bisa dilakukan, jaminannya kata bangkrut enggak bakal menghantui. Memang sih, butuh disiplin untuk membangun kebiasaan seperti itu.
Tapi worth it kok sama hasilnya. Enggak ada lagi kejadian sport jantung lihat saldo rekening beberapa hari setelah gajian.
CTA Banner Standard Chartered KTA

Image credit:
  • https://cdns.klimg.com/newshub.id/news/2016/03/02/46202/663×442-ini-cara-agar-belanja-bulanan-tidak-kalap-160302d.jpg
  • http://blog.traveloka.com/wp-content/uploads/2014/06/lazada-voucher-blog.jpg
  • http://vantros.co.id/web/wp-content/uploads/2014/12/fokus.jpg

Selasa, 17 September 2019

Ketika Teman Jadi Atasan, Jangan Jadi Gak Profesional Dong!

Pernah ketemu kasus ketika teman jadi atasan gak? Oh nooo, yaelah gak usah segitunya juga kelessss. Gak harus resign atau jadi aneh kok.

Hal-hal kayak gini udah banyak terjadi loh. Emang kenapa sih kalau yang tadinya rekan kerja lalu berubah status jabatan jadi atasan kamu? Kalau memang dia berhak dan kompeten kita gak boleh iri dong.



Bukankah sebagai teman yang baik harusnya ikut senang melihat temannya sukses. Hal yang sama juga bisa terjadi sama kamu kok. Jadi, jangan terlalu dibawa lebay apalagi galau ya.

Pastinya akan ada banyak hal yang berubah dari hubungan kalian ke depannya. Hubungan pertemanan kalian mungkin gak akan sama seperti sewaktu dia bekum jadi atasan kamu ya, khususnya saat berada di lingkungan kerja.

Emang kenapa gitu bro? Jadi gini loh mbaksis, masbro. Dalam dunia kerja tuh ada peraturan alias etika kerja. Sedekat apapun hubungan kalian, saat menyangkut profesionalisme kerja ya harus ada batasan.  

[Baca: Menghilangkan Kebiasaan Terlambat Ternyata Bisa Bikin Karir dan Keuangan Membaik, Gak Percaya?]
Nih, hal-hal yang harus kamu lakukan saat teman berubah jabatan jadi atasan atau bos kamu:

Ketika Teman Jadi Atasan
Siapa tahu kamu bisa jadi tim paling kompak, ya kaannn?

1. Tetap Profesional

Jangan lupa, walau kalian teman dekat tapi pada saat kalian berada di kantor ya tetap harus bisa menjaga hubungan seprofesional mungkin layaknya seorang atasan dan bawahan. Apa yang menjadi hak dan kewajiban kamu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Jangan pernah takut meminta apa yang menjadi hak kamu dan jangan juga meremehkan pekerjaan. Jadi jangan karena kamu merasa teman kamu yang sudah menjadi atasan akan memahami kelalaian kamu dalam menyelesaikan pekerjaan. Kamu gak bisa tuh ngeremehin dan mikir bisa ulur-ulur deadline kerjaan.

2. Memberi Dukungan Positif

Sebagai seorang teman yang baik singkirkan rasa iri dan rasa negatif lain saat teman kamu naik jabatan menjadi atasan. Sebaliknya, beri dia dukungan kamu dengan selalu siap memberi ide atau menyelesaikan semua kewajiban pekerjaan dengan sebaik mungkin.

Bantu teman kamu agar bisa mempertanggungjawabkan apa yang menjadi bagiannya di kantor kepada atasan yang lebih tinggi lagi. Bersikap kooperatif deh dengannya. Ingat, walau dia atasan, tetap saja statusnya karyawan yang bekerja untuk sang empunya perusahaan. Sama seperti kamu.
[Baca: Punya Karir Tidak Berkembang Jangan Buru-Buru Resign, Refleksi Diri Dengan Cara Ini
]
3. Beri Kesempatan Berkarya

Oke, rasa baper pasti ada. Mungkin ada terbersit sedikit rasa iri saat melihat teman yang seusia atau malah mungkin lebih muda sudah bisa naik ke posisi yang lebih baik di atas kamu. Atau bahkan menjadi atasan kamu langsung. Hayooo jujur deh sama perasaan kamu sendiri.

Sebenarnya wajar kok kalau ada rasa seperti itu. Tapi, jangan biarkan rasa itu mendominasi perasaan kamu seterusnya dan keseluruhan ya. Lalu kamu mempertanyakan bahkan meragukan kompetensi temanmu menjadi seorang atasan.

Ketika Teman Jadi Atasan 2
Hussshhh jangan suka bergunjing, gak baik buat lingkungan kerja

Beri kesempatan dulu deh untuk temanmu yang kini menjadi atasan untuk menunjukkan kemampuannya. Jangan baru mau mulai sudah disindir, gak disupport karena termakan rasa iri atau bahkan dijegal. Jangan terlalu cepat menghakimi sebelum melihat kerja nyatanya ya.

4. Mendengarkan

Katakanlah kalian punya hubungan pertemanan yang akrab bahkan udah kayak kakak adik. Tapi, saat berada di lingkungan kantor dan urusan kerjaan, kamu wajib untuk serius dan profesional. Terutama saat si atasan yang teman kamu itu sedang memberi wejangan, input atau instruksi pekerjaan ya kamu harus mendengarkan dengan baik.

Segala sesuatu yang baik itu dimulai dari mendengarkan, bukan hanya mendengarkan yang masuk kuping kanan lalu keluar kuping kanan. Mendengarkan yang artinya mencoba memahami apa yang sedang diutarakan dengan baik. Jangan ragu bertanya sekiranya ada yang janggal.

Sama halnya, ketika kamu melakukan kesalahan dalam pekerjaan. Jika atasan yang notabene adalah temanmu marah atau kecewa, ya kamu harus siap menerima. Jangan kelewat baper lalu berpikir itu karena sentimen pribadinya.

[Baca: Pilih Kerja Sesuai Passion tapi Duit Mepet atau Karir Lainnya tapi Cepet Bisa Hidup Mandiri?]

5. Jujur

Sudah bukan rahasia lagi kalau kejujuran adalah kunci segalanya, namun kejujuran juga merupakan sesuatu yang langka. Apalagi di dunia persaingan kerja dan bisnis.

Saat teman kamu si atasan melakukan kesalahan, kamu harus berani menunjukkan di mana kesalahannya. Tentu saja harus dengan cara yang baik dan waktu yang tepat. Jangan hanya diam, menerima tapi membuat kesalahan itu jadi bahan pergunjingan. Duh, gak baik tuh bro.

Sebaliknya, saat kamu melakukan kesalahan yang segera kamu sadari, ada baiknya mengaku. Jangan merasa gengsi, takut atau ragu kalau memang yang kamu katakan demi kebaikan perusahaan. Dengan saling jujur, kamu dan atasan toh bakalan bisa membuat performance kerja jadi lebih baik lagi.

Ketika Teman Jadi Atasan
Saling mendengarkan, saling mendukung, semua pasti bakal positif

Teori memang selalu lebih mudah dibandingkan dengan praktek dan realitanya ya. Tapi, paling gak harus berusaha melakukan yang terbaik dong. Gak sedikit sih yang nyatanya memilih pindah perusahaan karena temannya naik jabatan menjadi atasannya buat menghindari konflik.

Sekarang dikembalikan lagi deh ke pribadi kita masing-masing. Bukankah dengan rekan kerja yang naik jabatan bisa mencambuk kita lebih termotivasi ya. Dia bisa, kenapa kita gak? Nah, tunjukkan dengan hal-hal yang positif supaya kamu juga bisa meraih pencapaian karir terbaikmu. 

Jumat, 13 September 2019

Beli Barang Juga Ada Aturannya kalau Gak Mau Uang Habis Terus

“Gaji gue udah gede, otomatis gue kaya!” Setuju? Teorinya sih gitu. Mereka yang berpenghasilan gede seharusnya disebut kaya. Tapi gaji gede bukan jaminan hidup makmur lho!



Silakan saja bangga gaji sudah tembus dua digit tapi kalau amburadul kelola keuangan, kebanggaan itu jadi semu. Tanpa kemampuan mengatur keuangan tak akan pernah membuat seseorang menyandang predikat wong sugih.

Ketika duit masuk berlimpah tapi keluarnya juga kaya pancuran air, bakal ludes juga. Gak kerasa uang habis terus. Hidup makmur bukan diukur dari seberapa besar duit yang dimiliki, melainkan dilihat dari skill mengelola keuangan.

[Baca: Siapa sih yang Mau Jadi Orang Kaya? Ini Usahanya]
Duit itu enggak bakal berpihak sama mereka yang konsumtif. Kadang kala orang membeli sesuatu bukan lagi karena benar-benar butuh, tapi karena bisa mendapatkannya dengan mudah.

Gaya hidup konsumtif begini meracuni otak habis-habisan. Yang sebelumnya enggak membutuhkan tas Hermes, tetiba saja merasa wajib punya. Awalnya acuh sama aroma badan, mendadak wajib beli parfum Bvlgari. Biasa pakai jam Casio, kepengen ganti Rolex.

Uang Habis Terus
Wakwaw! Dompet kosong melompong padahal belum gajian

[Baca: Lima Barang yang Sebaiknya Jangan Dibeli Online]
Alhasil, belanja barang-barang itu jauh dari nilai substantifnya. Padahal tas fungsinya sebagai penyimpan barang, jam sebagai penunjuk waktu, dan lain sebagainya.

Kemudian baru sadar kalau kerja keras selama bertahun-tahun hanya menyisakan segepok botol kosong parfum, baju selemari besar, tumpukan tas di rak, dan rongsokan gadget tak berguna di laci.
Di saat bersamaan, sadar juga tak punya aset atau investasi yang bisa jadi penggangan buat masa depan. Semua kerja keras raib.

Enggak mau itu kejadian kan? Coba sekarang dicek. Bila masih melakukan hal di berikut ini, itu jadi tanda serius duit enggak bakal setia menghuni rekening.

1. Beli aset yang nilainya turun

Betul, beli aset bisa bantu mempercepat orang lebih kaya. Tapi aset yang mana dulu. Belum tentu! Cermati dulu aset apa yang dibeli. Jika aset yang dibeli nilainya turun sama saja menggerogoti keuangan.

Justru ini pemicunya. Orang akan selalu miskin kalau fokus membeli barang yang nilainya terus turun. Dengan kata lain, jika barang itu dijual maka nilainya lebih murah seperti mobil atau gadget.

Uang Habis Terus
Kalau lagi galau karena kepengin beli barang, merenung dulu deh

2. Gagal paham duit dipakai untuk apa

Enggak mau seperti zombie kan yang hidup tapi tak bernyawa. Seseorang juga mirip-mirip zombie bila hidup dari gaji ke gaji tiap bulan. Duit hanya habis tanpa tahu kegunaan dan tujuannya.

Jadi ketika punya uang, cobalah bikin perencanaan untuk mengatur dan menetapkan tujuannya untuk apa. Enggak mau seperti zombie kan?

3. Bingung bedakan kebutuhan dan keinginan

Gimana mau jadi kaya kalau belum mampu bedakan kebutuhan dan keinginan. Seringkali orang beli sesuatu karena merasa ‘’dibutuh-butuhkan’. Seperti disebut contoh di atas. Sudah punya arloji Casio mau ganti Rolex. Sudah ada Xiaomi Redmi kepengen iPhone 6s.

4. Abai sama rencana keuangan

Pas gajian saatnya foya-foya. Duh, begini yang bikin akhir bulan kembang kempis. Kebiasaan seperti itu terjadi karena tak punya rencana keuangan. Ketika tak punya rencana keuangan, yang ada pasti memilih belanja dan menghamburkan uang tanpa pikir panjang.

Kadang kala ini yang membuat kita loyal belanja apa saja yang dikehendaki karena tak punya target keuangan yang ingin dicapai.

5. Gesek kartu kredit juga harus pakai rencana

Sekarang emang udah gampang banget kalau mau belanja. Pengin barang dikit, tinggal gesek. Sampai gak sadar tagihan kartu kredit sudah menggunung. Alamak!

Pakai kartu kredit juga kudu cerdas. Pastikan kartu kredit sesuai dengan kebutuhan. Kalau mau belanja, gunakan saja fitur cicilan 0% atau kartu kredit yang sering ngasih diskon.

Kesimpulannya, ingatlah pepatah roda tak selalu berputar di atas. Pernahkah terpikir bila tiba-tiba sakit dan perlu duit banyak? Ironisnya di saat bersamaan pakai baju branded, sepatu mahal, dan gadget premium tapi enggak punya tabungan?

Pasti ketika butuh dana cepat, pilihannya menjual barang-barang itu lagi. Bukannya malah jatuhkan gengsi?

Uang Habis Terus
Komit bahwa duit itu sesuatu yang kudu diatur, bukan sebaliknya

Perlu komitmen yang tinggi agar hasil kerja keras tak menguap percuma. Caranya dengan menjaga jarak dengan gaya hidup di luar batas kemampuan finansial.

Siapa sih yang enggak tertarik punya iPhone 6s atau Samsung S7 ketika semua orang sudah punya?
[Baca: Tepatkah Beli Gadget dengan Cara Mencicil?]

Ketika godaan itu ada, Ingat lagi judul artikel ini ya, “Beli Barang Juga Ada Aturannya kalau Gak Mau Uang Kamu Raib Terus.”